Senin, 28 Oktober 2013

BIROKRASI

JAKARTA - Daerah-daerah harus didorong untuk segera melakukan reformasi birokrasi. Reformasi birokrasi mutlak diperlukan untuk menciptakan birokrasi publik yang berintegritas tinggi, mampu memenuhi keperluan publik, serta bersih atau bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

"Yang harus kita dorong adalah reformasi birokrasi di daerah. Perlu ada penyelarasan reformasi birokrasi di pusat dan di daerah," kata Guru Besar Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada Sofian Effendi dalam acara diskusi yang diselenggarakan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasidi Jakarta, Selasa.

Sofian Effendi menuturkan, banyak masalah terkait birokrasi yang harus segera dibenahi di daerah. Ia mencontohkan masalah yang terjadi di daerah, di antaranya tentang penggantian pejabat daerah yang terlalu sering tanpa alasan yang jelas sehingga menganggu penyelenggaraan pemerintahan daerah. "Ini jelas merusak birokrasi," katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, agar reformasi birokrasi dapat berjalan, maka dibutuhkan komitmen politik yang kuat dari para pemimpin dan pembuat kebijakan. Tanpa komitmen tersebut, maka reformasi tidak akan berjalan maksimal.

"Faktor penentu dari reformasi birokrasi itu adalah pemimpinnya. Reformasi birokrasi bisa berhasil kalau pemimpinnya memiliki komitmen politik yang sangat kuat," katanya.

Di daerah, kepala daerah memegang peran kunci untuk melaksanakan reformasi. Menurut Sofian, baru sedikit kepala daerah yang berinovasi untuk meciptakan perbaikan-perbaikan birokrasi di daerah. "Seharusnya inovasi ini cepat ditiru di daerah-daerah lain. Jadi perubahan terjadi dari bawah," katanya.

Sebelumnya, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Azwar Abubakar mengatakan pada 2012 akan ada sekitar 76 daerah yang menjadi proyek percontohan reformasi birokrasi. Penentuan daerah yang menjadi proyek percontohan ini dilihat dari komitmen politik dan agenda reformasi dari kepala daerah. (tk/ant)